Industri game di Indonesia, khususnya ekosistem Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), telah berkembang menjadi ladang ekonomi yang sangat masif. Tidak hanya melahirkan atlet esports profesional dan kreator konten, gim besutan Moonton ini juga memunculkan profesi unik yang beroperasi di “bayang-bayang” namun menghasilkan perputaran uang miliaran rupiah. Profesi tersebut adalah penyedia jasa joki atau boosting service.
Bagi sebagian orang awam, istilah “joki” mungkin terdengar negatif. However, bagi komunitas gamer, joki adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membantu mereka keluar dari neraka “Epic Abadi” menuju kebanggaan Mythical Glory. Fenomena ini bukan lagi sekadar iseng-iseng berhadiah, melainkan telah bertransformasi menjadi bisnis terstruktur yang mampu menghasilkan pendapatan setara, bahkan melebihi gaji manajer di perusahaan korporat. Bagaimana bisnis ini bekerja dan mengapa permintaannya begitu tinggi? Mari kita bedah fenomena ekonomi digital ini.
Mengapa Jasa Joki Sangat Laris Manis?
Permintaan akan jasa joki tidak muncul begitu saja. Ada faktor psikologis dan sosial yang mendorong pemain rela merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk mengubah logo pangkat di profil mereka. Alasan utamanya adalah gengsi sosial. Di tongkrongan atau lingkungan sekolah, memiliki rank Mythic atau Mythical Immortal menaikkan status sosial seorang pemain.
Moreover, banyak pemain merasa frustrasi dengan sistem matchmaking yang sering kali tidak adil. Mereka merasa memiliki kemampuan (skill) tinggi, namun selalu kalah karena mendapatkan rekan tim yang beban atau troll. Kondisi ini sering disebut sebagai “Dark System” Moonton. Joki hadir sebagai solusi instan untuk memecahkan masalah tersebut. Penjoki menawarkan jaminan kemenangan (Win Rate) tinggi dan proses pengerjaan yang kilat.
Selain itu, kesibukan dunia nyata juga menjadi faktor penentu. Banyak pemain dewasa yang memiliki uang tetapi tidak memiliki waktu untuk melakukan grinding atau push rank berjam-jam. Mereka lebih memilih membayar orang lain untuk memainkan akun mereka agar tetap relevan di lingkaran pertemanan mereka tanpa harus mengorbankan waktu kerja atau istirahat.
Potensi Penghasilan: Dari Uang Jajan hingga Gaji Fantastis
Berbicara soal angka, pendapatan seorang penjoki profesional bisa membuat mata terbelalak. Sistem harga biasanya mereka patok berdasarkan “Bintang” (untuk rank Mythic ke atas) atau per “Paket Rank” (misalnya dari Epic ke Legend).
Sebagai gambaran kasar di tahun 2026, harga per bintang di rank Mythical Glory bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp35.000. Bayangkan jika seorang joki mampu menaikkan 20 bintang dalam sehari. Dalam satu hari kerja, mereka bisa mengantongi Rp400.000 hingga Rp700.000. Jika mereka konsisten melakukan ini selama 25 hari dalam sebulan, pendapatan kotor mereka bisa menembus angka belasan juta rupiah.
Tentu saja, mencapai level pendapatan ini memerlukan dedikasi dan konsistensi. Membangun reputasi sebagai joki tepercaya membutuhkan proses panjang, mirip dengan seorang petani yang menaburkan pupuk138 secara rutin agar tanamannya menghasilkan panen berkualitas tinggi dan melimpah. Begitu pula seorang joki, mereka harus memupuk kepercayaan pelanggan dengan memberikan hasil Win Streak (kemenangan beruntun) yang memuaskan agar klien tersebut melakukan pesanan berulang (repeat order).
Struktur Bisnis Joki yang Semakin Profesional
Dulu, joki hanya bekerja secara perorangan (solo). However, saat ini sudah banyak bermunculan “Vendor Joki” atau agensi. Vendor ini bertindak sebagai perantara yang mencari klien, lalu melempar pesanan tersebut kepada para “Worker” (penjoki lapangan) dengan sistem bagi hasil.
Sistem ini memungkinkan perputaran uang yang lebih cepat dan aman. Furthermore, vendor biasanya menyediakan layanan pelanggan (Customer Service) 24 jam dan jaminan keamanan akun, sehingga konsumen merasa lebih nyaman bertransaksi. Beberapa vendor besar bahkan sudah berani memasang iklan di media sosial populer seperti TikTok dan Instagram dengan dukungan influencer ternama.
Suka Duka Menjadi Penjoki Profesional
Meskipun terlihat menggiurkan, menjadi joki bukanlah pekerjaan yang mudah. Mereka harus memiliki mental baja dan fisik yang prima. Seorang joki harus siap menatap layar ponsel selama 10 hingga 12 jam sehari. Kelelahan mata dan jari adalah risiko kerja yang nyata.
In addition, tekanan untuk selalu menang sangatlah besar. Jika joki mengalami kekalahan (lose streak), mereka wajib mengganti bintang yang hilang tersebut secara gratis. Artinya, mereka harus bekerja dua kali lipat tanpa bayaran tambahan. Belum lagi jika mereka bertemu dengan klien yang rewel atau menuntut pengerjaan yang tidak masuk akal.
Penjoki juga harus terus mengasah kemampuan mikro dan makro mereka mengikuti META (Most Effective Tactic Available) terbaru. Mereka tidak boleh ketinggalan informasi mengenai hero apa yang sedang overpowered (OP) atau strategi rotasi terbaru. Jika skill mereka tumpul, mereka akan kalah bersaing dengan ribuan joki lain yang siap membanting harga.
Risiko Keamanan dan Larangan Developer
Penting untuk kita catat bahwa Moonton, selaku pengembang, sebenarnya melarang praktik joki atau account boosting. Dalam aturan tata tertib fair play, tindakan membagikan akun kepada orang lain untuk menaikkan peringkat dianggap sebagai kecurangan yang merusak ekosistem permainan.
Risiko bagi pengguna jasa joki meliputi:
-
Banned Akun: Jika sistem mendeteksi perpindahan lokasi login yang tidak wajar atau pola kemenangan yang aneh, akun bisa terkena banned sementara hingga permanen.
-
Pencurian Akun: Menyerahkan email dan password kepada orang asing selalu membawa risiko pencurian data (hack), terutama jika menggunakan jasa joki perorangan yang tidak memiliki reputasi.
-
Kesenjangan Skill: Setelah akun mencapai rank tinggi berkat joki, pemilik asli sering kali kesulitan bermain di rank tersebut. Hal ini justru membuat mereka menjadi beban bagi tim dan merusak pengalaman bermain orang lain.
Kesimpulan: Peluang di Tengah Kontroversi
Terlepas dari kontroversi dan larangan resminya, fenomena joki Mobile Legends adalah bukti nyata kreativitas ekonomi digital di Indonesia. Di mana ada permintaan (pemain yang ingin rank tinggi instan), di situ pasti ada penawaran (pemain jago yang butuh uang).
Bagi para pemain dengan skill di atas rata-rata, ini adalah peluang emas untuk memonetisasi hobi. Bagi pengguna jasa, ini adalah jalan pintas menuju gengsi. Nevertheless, semua pihak harus memahami risiko yang menyertainya.
Apakah fenomena ini akan bertahan lama? Selama sistem rank masih menjadi tolak ukur kehebatan seseorang dalam game, profesi joki akan terus ada dan berkembang, berevolusi mengikuti zaman.
Bagaimana menurut Anda? Apakah joki adalah pahlawan bagi pemain yang terjebak di “Neraka Epic”, atau justru perusak ekosistem permainan yang sportif?